Opini

Mengenal Role Playing Game, Bermain Dengan Imajinasi Tanpa Batas – [Bermain Cerita]

Bagikan:

Di Atas Meja, Menaklukkan Imajinasi

Dunia board game memang tanpa batas, di satu permainan kita bisa menjadi jagoan, di game lain jadi petani kacang, satu waktu pemain saling bersaing menguasai wilayah, di kala lain justru bekerjasama melawan penyebaran penyakit mematikan.

Tentunya kita semua sepakat, faktor paling menyenangkan dari permainan di atas meja adalah bertemu dan bermain bersama teman, saudara atau bahkan orang asing yang tadinya tidak saling kenal.

Anak-anak suka bermain peran sesuai dengan imajinasi mereka | Foto: dramacamp.com

 

Masih ingat masa kecil dulu? Waktu kita bisa bermain sebebas-bebasnya, boleh dibilang hanya dibatasi imajinasi saja. Halaman kecil di belakang rumah? Woh bukan, bagi seorang anak dan teman-temannya, itu adalah hutan rimba penuh rintangan dan marabahaya yang menyimpan rahasia tentang harta karun yang melimpah-ruah.

Masuk ke dunia permainan, di satu sisi adalah kembali ke dunia kanak-kanak yang tanpa batas itu. Di sisi lain adalah memenuhi kebutuhan sosial kita sebagai manusia. Di sisi lain lagi, bisa jadi semacam pemanasan pada kemampuan-kemampuan analitis atau negosiasi atau manajemen konflik.

Saya mengenal dunia board game sejak lama, sejak kanak-kanak seperti kebanyakan orang tentunya. Namun dunia board game di masa keemasannya saat ini, saya baru mengenal benar-benar pada awal 2000-an, lewat siapa lagi kalau bukan Mas Eko Nugroho yang juga koordinator redaksi Boargame.id ini.

Bermain Peran

Lewat paparan budaya pop Amerika Serikat, saya juga mengenal dunia RPG (role playing games). Terutama, tentunya, Dungeons and Dragons (D&D; dibaca: di-en-di). Pengetahuan saya soal D&D begitu terbatas, hanya apa yang sempat terlintas dalam berbagai budaya pop. Misalnya, ingatkah bahwa film E.T (1982) karya Spielberg menampilkan adegan bermain Dungeons and Dragons?  

Drama Sitcom The Big Bang Theory saat adegan bermain RPG | Gambar: isolaillyon.it

Istilah RPG mungkin bagi banyak orang lebih lekat pada permainan digital. Padahal RPG sesungguhnya diawali dari permainan di atas meja, dengan kertas, pensil, dadu dan buku. Sekarang, RPG yang asli justru kerap harus dirujuk dengan istilah Tabletop RPG, saking populernya istilah RPG untuk merujuk pada genre video game.

Dalam sebuah artikel, Brian Danford membuat perumpamaan yang saya kira sangat tepat tentang RPG. Perumpamaan (atau tepatnya, penjelasan) Danford kembali lagi pada masa kanak-kanak. 

Saat ini, RPG lebih lekat pada permainan digital. Padahal RPG sesungguhnya diawali dari permainan di atas meja, dengan kertas, pensil, dadu dan buku. RPG yang asli justru kerap harus dirujuk dengan istilah Tabletop RPG, saking populernya istilah RPG untuk merujuk pada genre video game.

Buat saya, RPG mempertemukan dua hal yang sangat saya gemari: cerita dan permainan.

Lewat rangkaian tulisan di Boardgame.id ini saya ingin berbagi soal serunya bermain sambil menjelajahi dunia imajinasi tanpa batas. Kita akan sama-sama berkenalan dengan RPG, mulai dari yang paling ‘umum’ seperti Dungeons and Dragons hingga ke bentuk-bentuk lain yang memecah batas. Saya juga berniat untuk menulis tentang tabletop game lainnya, namun selalu dari sudut pandang storytelling.

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian tulisan yang membahas soal hubungan antara tabletop game (boardgame, cardgame, tabletop RPG) dengan narasi atau storytelling. Saya berharap petualangan ini bisa kita jalani bersama dengan seru. Jika ada masukan soal topik ini, atau sekadar ingin berdiskusi, saya bisa dicolek lewat akun Instagram @wicakhidayat.

Bagikan:
Wicak Hidayat
Wicak Hidayat adalah penggemar boardgame yang tinggal di Depok. Ia telah memiliki pengalaman lebih dari 12 tahun di media massa (Kompas.com & detikcom). Saat ini ia merintis usaha-usaha baru sambil terus menyempatkan diri bermain boardgame. Konon, supaya tetap waras.
http://wicakhidayat.wordpress.com