Designer Log Opini

#CatatanDesigner: The Festivals – Tak Apa Memulai dari yang Rumit.

Bagikan:

Hits: 3

Saat merancang board game pertama kali, mungkin kamu akan menanyakan pertanyaan ini ke diri sendiri. Sejauh mana kamu mulai harus mengimplementasikan ide-ide di catatanmu ke dalam sebuah prototype? apalagi prototype yang pertama.

Menilik kembali saat-saat mendesain board game The Festivals, ide yang muncul di awal jauh berbeda dengan hasil jadi yang sekarang. Kok bisa berbeda? Satu hal yang pasti, ide awal ini tercetus karena banyak tempelan konsep dan fitur di dalamnya. Bisa dibilang, prototype pertama The Festivals gamenya sangat rumit.

Terciptanya prototipe board game yang rumit dan kompleks biasanya sering menimpa mereka yang baru pertama kali mendesain board game. Mereka belum terbiasa dan kesulitan membuat board game yang sederhana. Ujung-ujungnya, semua ide dituangkan menjadi prototipe yang mungkin untuk selesai perlu waktu lebih dari waktu yang ditargetkan. Bahkan untuk menuliskan cara mainnya pun jadi susah saking rumitnya menerjemahkan aksi ke dalam tulisan.

The Festivals versi jaman batu. Tahap awal pokoknya keliatan ribet dan ruwet

Membuat board game yang sederhana itu tidak sesederhana yang kamu pikir. Sampai saat ini pun saya masih salut dengan Seiji Kanai yang sukses dengan Love Letter. Hanya butuh 16 kartu jadi game yang seru, dan gamenya sederhana.

Berhubung membuat yang sederhana itu sukar, ya sudah mulai saja dulu dari yang rumit seperti yang kamu bisa. Pasti semua hal ada pro dan kontranya. Dengan kata lain, tidak ada salahnya juga menuangkan banyak ide ke dalam prototipe pertama. Tenang, ada keuntungannya juga kok.

Keuntungan berangkat dari yang rumit

Oke, gini deh, kenapa di toko jeans, banyak celana panjang yang ukurannya lebih panjang dari kaki kita? Karena si penjahit tidak tahu ukuran panjang kakimu. Dibuat lebih panjang mungkin agar bisa fleksibel. Mau lebih pendek? ya tinggal vermak aja kan.

Sama, dengan membuat desain awal yang rumit, nantinya jadi lebih fleksibel untuk merancang versi santainya. Jadi, setelah ide dan konsep desain yang pertama tertuang menjadi prototipe, segera uji cobakan. Proses playtest sangat penting untuk melihat dinamika pemain dengan game yang sedang dimainkan.

Selama playtest coba perhatikan pengalaman para pemainnya, apakah mereka bingung, sering lupa urutan aksi atau urutan mainnya bagaimana. Catat semua hasil playtest. Dari situ kamu akan tahu mana mekanik atau elemen apa yang bisa dibuang agar permainan jadi lebih simple selama tidak mengubah core gameplay utama.

The Festivals prototipe kesekian, tetap lebih rumit dari yang sekarang.

Awalnya, The Festivals saya buat dengan sebuah board dengan peta Indonesia secara utuh. Dari satu kota ke kota yang lain tersambung garis warna-warni. Setiap warna garis itu melambangkan moda transportasi yang berbeda yaitu darat, laut dan udara.

Kala itu saya terbayang board game Pandemic, satu kota terhubung dengan garis untuk menuju kota lain. Kalau mau lewat darat pemain harus membayar token warna hitam, udara warna biru dan laut warna kuning. Bayangkan seruwet apa papan permainan bila dipenuhi dengan garis-garis seperti itu.

Oiya, catatan, kamu harus sudah menentukan core gameplay yang ingin kamu hadirkan. Dalam kasus The Festivals, core yang ingin saya pertahankan adalah point-to-point movement dan resource management.

Penampakan versi ritel dari The Festivals

The Festivals yang sekarang jauh berbeda kan? Namun core gameplay-nya masih sama, yaitu pemain tetap harus bergerak dari satu pulau ke pulau lain (bukan lagi kota ke kota). Lalu meskipun tidak ada garis yang menghubungkan antar pulau dan tidak lagi menggunakan moda transportasi yang berbeda, The Festivals tetap memiliki unsur resource management dan jauh lebih sederhana.

Tentu banyak proses yang belum diceritakan, jika ada kesempatan tunggu saja #catatandesigner selanjutnya.


Tentang penulis

Isa R. Akbar bergabung dengan Manikmaya Games dari awal berdiri tahun 2013. Sekarang ia menjadi penulis dan editor untuk situs berita boardgame.id. The Festivals adalah board game pertama yang ia buat.
Punya pertanyaan seputar game design? Hubungi saja lewat email di isa@boardgame.com


Teman-teman juga ingin berbagi cerita serunya saat mengembangkan sebuah (board) game? Kamu juga bisa mengirimkan cerita #CatatanDesainer versi kamu lewat email kami di info@boardgame.id

Ayo jangan malu bercerita, karena berbagi itu tak ada ruginya. Malah, siapa tahu cerita kamu bisa menginspirasi game designer yang lain.

Bagikan:
vagansza
Editor of boardgame.id, board game enthusiast, and also a cheese lover. His favorite is Carcassonne. Nice to meet you!