Kabar Game

“Deck Building” dan Dominasi Dari Sebuah Penemuan

Bagikan:

Ketika Donald X. Vaccarino berhasil mendapatkan penghargaan prestisius Spiel des Jahres (game terbaik)tahun 2009 dengan “deck building” card game-nya berjudul “Dominion”, semua mata pencinta board game tertuju pada box yang berisikan 500 lembar kartu tersebut. Dalam kurun waktu 2 tahun dari realese-nya di pameran board game terbesar di duinia: Essen Spiel tahun 2008, Dominion sudah terjual satu juta copy di seluruh dunia dan menjadi salah satu card game terlaris hingga saat ini.

6 tahun lalu ketika pertama kali saya dikenalkan dengan Dominion, game ini tidak meninggalkan kesan yang dalam pada saya. Memang saat itu saya masih awam dengan permainan tabletop game. Beberapa tahun setelah saya mencoba memperdalami game design, barulah saya mengerti mengapa publisher ternama “Rio Grande” sangat tertarik dengan karya Donald X. Vaccarino ini. Betapa tidak, Vaccarino dapat membuat compact esensi dari trading card game ke dalam 120 menit bermain game ini.

Trading Card Game (TCG) sendiri merupakan genre game yang mengharuskan para pemainnya membuat deck (set kartu)-nya sendiri untuk bermain, dari booster yang berisikan kartu-kartu yang random. “Magic: The Gathering” & “Yu Gi-Oh” merupakan contoh game yang paling terkenal dalam genre ini. Untuk membangun deck yang kuat, tentu dibutuhkan kartu-kartu yang kuat pula secara skill atau kegunaannya dalam permainan. Tidak sedikit waktu serta uang yang dikeluarkan untuk membangun sebuah deck yang kuat. Namun dari esensi collectible itulah experience yang hadir saat pemain membangun deck-nya menjadi sangat kaya dan sangat personal. Tidak heran jika bermunculan komunitas serta market yang mewadahi para pemain untuk saling bertukar kartu sampai menjual kartu-kartu langka dengan harga yang membumbung tinggi.

Dalam Dominion, Vaccarino berhasil menemukan mekanik game yang dapat merangkum semua kegiatan dalam TCG. Mulai dari membeli kartu hingga membangun sebuah deck yang merupakan proses fundamental dalam TCG. Dominion mengambil tema membangun sebuah daerah menjadi sebuah kerajaan yang termasyur pada abad pertengahan. Hal ini tidak lepas dari ketertarikan Vaccarino pada game-game Eropa yang kebanyakan mengambil tema pembangunan, dari pada tema perang yang biasa diterapkan game-game Amerika. Permainan diawali dengan tiap pemain mengambil 5 buah kartu dari starter deck-nya masing-masing. Starter deck berisikan kartu-kartu yang mempunyai value untuk membeli kartu lain. Di atas meja terpampang beberapa tumpukan kartu yang dapat dibeli pemain pada fase membeli kartu. Kartu-kartu ini memiliki skill dan kegunaan yang berbeda-beda. Di dalam area yang dianalogikan sebagai sebuah market tersebut, terdapat pula kartu yang memiliki nilai victory point. Kartu inilah yang menjadi objektif dari Dominion, pemain yang paling banyak mengumpulkan poin dari kartu tersebut menjadi pemenangnya.

Lalu bagaimana Vaccarino menerapkan cara membangun deck, yang merupakan hal paling fundamental pada CCG kedalam Dominion? Dengan jeli, Vaccarino membubuhkan mekanisasi yang sangat sederhana kedalam permainan agar pemain dapat mengembangkan deck-nya. Mekanisasi yang dimaksud adalah mengocok ulang starter deck yang habis terpakai dengan tambahan kartu-kartu yang telah dibeli pemain pada fase membeli kartu. Dengan begitu deck pemain dapat dikembangkan menjadi deck yang berisikan kartu-kartu yang berguna untuk memudahkan pemain dalam mengumpulkan kartu victory point.

Tidak selamanya invention atau sebuah penemuan dihasilkan dari hal-hal yang rumit. Terbukti dari mekanisasi deck building Dominion yang berhasil menuai banyak perhargaan. Memang Dominion tidak dapat menggantikan pengalaman personal yang sangat kental dalam TCG, ataupun menghadirkan interaksi antar pemain yang kuat seperti “Citadel”. Tapi dari mekanisasi yang simple inilah beberapa judul game hebat lainnya seperti “Thunderstone” dan “Ascension” dapat tercipta. Bravooo!

Bagikan: