Headline Ngobrol Game Opini Pendidikan Tips/ Tutorials

#ngobrolgame: Mendesain Game Untuk Anak-Anak (PAUD dan TK)

Bagikan:

Kembali lagi dalam rubrik #ngobrolgame. Dalam rubrik ini pembaca bisa menggali ulasan serta informasi menarik seputar game design. Siapa tahu paparan dalam rubrik ini bisa membantumu membuat board game yang keren.

Jika rekan-rekan kebingungan dan memiliki pertanyaan terkait proses game design atau pemanfataan (board) game untuk proses pembelajaran (game based learning). Rekan-rekan juga bisa mengirimkan pertanyaan melalui email email ke info@boardgame.id dengan subjek: #ngobrolgame. Setiap minggu kami akan memilih beberapa pertanyaan untuk dibahas di rublik #ngobrolgame ini.

Tolong diulas hal-hal apa yang perlu diperhatikan ketika kita mendesain Board Game untuk anak-anak PAUD dan TK? – Adnanto Wiweko

Jawaban:

Banyak penelitian telah memberikan bukti bahwa bermain adalah sebuah proses belajar yang penting – terutama bagi anak-anak di usia 3-6 tahun (PAUD dan TK). Bahkan Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa “Bermain adalah tuntutan jiwa anak untuk menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani” – Mimbar Indonesia (1948).

Dalam konteks di atas, yang penting dan perlu digaris bawahi adalah proses bermainya. Sehingga, sesi #ngobrolgame kali ini akan membahas game sebagai bagian dari proses bermain tersebut.

Mashup Monsters dari Manikmaya Games menggunakan mekanik Pattern Recognition bisa dimainkan untuk anak minimal 5 tahun. | Foto: Manikmaya Games

Secara umum bermain (play) dapat dikategorikan menjadi 3 kategori besar (Hutt et. all 1989):

1. Epistemic play: Sebuah proses bermain yang mengedepankan proses eksplorasi atau penyelesaian masalah. Bermain Play-Doh, puzzle, balok susun bisa masuk dalam kategori ini.

2. Ludic play: Sebuah proses bermain yang mengedepankan imajinasi, fantasi, bermain peran, atau hal-hal lain yang umumnya bersifat pengulangan (repetitif). Ketika anak-anak bermain boneka, bermain mobil-mobilan, atau perang-perangan, aktivitas tersebut bisa dikategorikan masuk dalam kategori ini.

3. Games with rules: Sebuah proses bermain yang didukung oleh peraturan dan media yang khusus.

Ketiga hal tersebut di atas penting untuk saya sampaikan agar kita bisa melihat ada banyak variasi proses bermain yang bisa kita hadirkan untuk mendukung proses belajar anak-anak kita, terutama ketika mereka dalam tahap belajar awal di PAUD maupun TK (3-6 tahun) – tanpa perlu terpaku pada satu kategori proses bermain.

Khusus untuk game, karena ia memiliki sebuah peraturan khusus (berbeda dengan kategori bermain lainnya) – maka game menjadi lebih kompleks. Perlu dipahami bahwa untuk sebagian besar anak-anak, memahami sebuah peraturan (game) dan mampu melaksanakannya adalah sebuah kompleksitas tersendiri. Apalagi ketika peraturan tersebut mengatur interaksinya dengan anak-anak lain (mobile/digital game meminimalisir ini dengan fokus pada individual play).

Untuk itu, hal pertama yang perlu diperhatikan ketika kita coba mendesain game untuk anak-anak adalah bentuk gameplay yang akan kita hadirkan haruslah sesederhana mungkin. Dice Rolling (lemparan dadu) dan Pattern recognition (memory, puzzle) adalah 2 game mechanics yang terbukti cukup optimal untuk target audience muda.

Kedua mechanics tersebut bisa kita olah untuk menghadirkan berbagai variasi gameplay yang menarik namun cukup sederhana. Salah satu contoh implementasi salah satu mechanic tersebut adalah pada board game Kucing Sumput yang pernah kami kembangkan untuk perangkat berbasis Android.

Tampilan board game Kucing Sumput versi mobile (Android) | Gambar: Play Store

Hal lain yang penting untuk diperhatikan ketika kita mendesain game untuk anak-anak adalah durasi permainan. Anak 3-6 tahun umumnya memiliki attention span (kemampuan untuk terlibat secara penuh dalam sebuah aktivitas) selama 5-15 min. Ini bisa menjadi panduan untuk kita mendesain sebuah game.

Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan tentu adalah konten/visual dan komponen game (terutama ketika kita mendesain board/card game) yang kita hadirkan. Penting sekali bahwa kita menghadirkan konten dan komponen yang sesuai dengan usia mereka/ramah anak. Kita bisa mempelajari pandungan konten dari media lain (misal film atau digital game) untuk jadi semacam acuan pengembangan konten/viusal yang tepat. Khusus untuk komponen permainan, yang terpenting adalah bahwa komponen tersebut aman – baik secara desain (tidak tajam) maupun secara material.

Kita bisa mempelajari pandungan konten dari media lain (misal film atau digital game) untuk jadi semacam acuan pengembangan konten/viusal yang tepat. Khusus untuk komponen permainan, yang terpenting adalah bahwa komponen tersebut aman – baik secara desain (tidak tajam) maupun secara material.

Kita bisa mempelajari pandungan konten dari media lain (misal film atau digital game) untuk jadi semacam acuan pengembangan konten/viusal yang tepat. Khusus untuk komponen permainan, yang terpenting adalah bahwa komponen tersebut aman – baik secara desain (tidak tajam) maupun secara material.

Baca juga: #ngobrolgame – Tips Mendesain Game Kooperatif

Secara umum ketiga hal tersebut di atas adalah hal-hal yang penting untuk kita perhatikan ketika mendesain game untuk anak-anak PAUD dan TK. silahkan jika rekan-rekan ada yang bersedia menambahkan dan melengkapi.

Semoga bermanfaat.

Eko NugrohoGame Designer.

Referensi:
Hutt, S. J., Tyler, S., Hutt, C., & Christopherson, H. (1989). Play, Exploration and Learning: a Natural History of the Pre-School. London and New York: Routledge
http://www.ncca.ie/en/Publications/Consultative_Documents/Towards_a_Framework_for_Early_Learning_Executive_Summary.pdf

Bagikan:
enugroho
Game designer, happy Player, Kiriya admirer, and a food hunter. Kadang juga bagi cerita, ide, dan foto via twitter: @eNugroho
http://eko.nugroho.web.id