Ludenara

Ludere Nusantara (Ludenara) adalah sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada implementasi pendekatan pembelajaran interaktif berbasis game (game-based learning) untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pendidikan kita harus bisa menghadapi dunia yang dinamis dan selalu berkembang, kita tidak bisa lagi memprediksi ilmu apa saja yang dibutuhkan anak-anak kita di masa depan. Apa lagi menurut Institute of the Future (IFF) di tahun 2030, 85% dari pekerjaan yang ada, belum exist sekarang. Namun ada keterampilan-keterampilan yang pasti dibutuhkan di sepanjang masa. Hal ini telah dikompilasi oleh World Economic Forum sebagai 21st Century Skills

Namun tidak berarti ilmu tidak penting, namun karena kita tidak tahu ilmu spesifik apa saja yang dibutuhkan, game based learning mendorong Learning to Learn. Dimana kita, mempromosikan asyiknya belajar, dan membantu anak-anak untuk mencari cara belajar yang menurut mereka paling cocok. Karena belajar itu seru, tentunya anak-anak tidak akan berhenti belajar mencari ilmu nya sendiri!

Lorem Ipsum

2019

Januari, Festival Belajar Main

Event pertama Ludenara! Sebuah acara bertajuk Festival Belajar Main (FBM). Acara yang ditujukan untuk guru, orang tua dan aktivis di bidang pendidikan ini rupanya berhasil menarik sekitar 80 peserta.

Yang menjadi tantangan adalah bermain/games masih memiliki stigma yang kurang baik di kalangan guru dan orang tua kita, bermain di anggap hanyalah sebuah aktivitas yang menghabiskan waktu dengan sia-sia, dan anak-anak kita sangat gampang kecanduan games. FBM ingin menunjukkan ternyata game bukanlah hal yang negatif dan justru bisa mendorong kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih seru.

40F3F089-0760-430B-B1A6-EF3171A38A86

2019

Maret, Board Game Design Class

Ludenara mengadakan kelas dimana orang tua, dan guru-guru bisa belajar mendesain board game. Bukan hanya sekedar board game, karena Ludenara dapat mengajarkan cara mendesain game yang bisa mengajarkan nilai-nilai dan yang ingin disampaikan.

Kelas ini memberi kesempatan peserta untuk menghasilkan board game yang bisa mereka gunakan di kelas maupun di rumah untuk mengajar. Untuk itu di hari ke-2 peserta diberikan prototype kit, dimana mereka bisa membuat prototype board game nya, di coba di mainkan, dan mereka langsung dapat masukan-masukan penting oleh ahli-ahli board game design dari Kummara.

Dari mengajarkan rantai makanan, anti-bullying, sampai bersih-bersih rumah. Banyak sekali hasil Kelas Game Design Ludenara batch 1 ini!

2019

April, Game Based Learning Class

Kita ingin menghadirkan proses pembelajaran yang penuh arti bagi anak-anak kita, karena itu memiliki board game yang edukatif saja tidak cukup. Pembelajaran tidak akan maksimal ketika kita tidak tahu cara memfasilitasi proses itu.

Ludenara kali ini mengadakan kelas game based learning. Dimana peserta bisa mengetahui secara rinci, bagaimana cara memfasilitasi proses pembelajaran dengan menggunakan media games apa pun! Dengan menggunakan canvasing, para peserta bisa menciptakan sebuah resep bermain, sebuah cara mengajar menggunakan games yang dipastikan efektif untuk mengajar di kelas maupun di rumah.

Di akhir kelas ini terciptalah 4 resep main berbeda hanya dengan menggunakan 1 games. Dari sini peserta bisa melihat, bahwa 1 game dapat digunakan untuk mengajarkan banyak sekali materi yang sangat berbeda.

2019

April, Game Schooling

Bersama Sd Penabur Bandung, kegiatan Ludenara yang kali ini fokus mengimplementasikan game based learning untuk memberi materi pelajaran yang spesifik kepada anak-anak. Lewat pembelajaran game based learning ini, kita telah mengalami kekuatan games untuk menarik perhatian anak-anak terhadap topik-topik pembelajaran yang sebelumnya mereka tidak ingin pelajari.

Selain mempelajari topik pelajaran games juga bisa menjadi sebuah media yang memberikan tempat untuk anak-anak mengasah kemampuan yang dibutuhkan di abad ke-21 ini. Dari bermain games anak-anak dengan sendiri nya mengasah kemampuan kognitif mereka untuk planning, strategizing, critical thinking, dan problem solving, kompetensi sosial yang sangat dibutuhkan di dunia kerja juga terlihat muncul di saat mereka bermain, dengan sendirinya mereka ber kooperasi, kolaborasi, kompetisi dan juga belajar meregulasi kan emosi mereka.

D6CA03B6-1503-457E-B2E6-D2C25AE8A3DF

2019

Juli, Game Schooling

Kali ini kita kembali menghadirkan acara Game Schooling, kali ini dibuka untuk publik dan dihadirkan selama dua hari. Selama dua hari ini anak-anak kita ajak untuk memainkan dua board games yang berbeda, yaitu Aquatico di hari pertama dan Festivals di hari kedua.

Di kedua hari ini, Game Schooling menggunakan format yang sama. Dengan format ini setiap kelompok anak akan mendapatkan fasilitator yang akan mendampingi mereka selama proses bermain. Fasilitator kita akan mendorong anak-anak untuk mengasah 21st century skills mereka seperti, Self-learning, Metaprespective, Character Qualities, dan Competencies.

Setelah bermain kita mengadakan proses debriefing, dimana kita bisa melihat sendiri wawasan-wawasan yang anak-anak bisa gali dengan sendirinya. Seperti setelah bermain Aquatico salah satu murid game schooling menyimpulkan “Iya bersih-bersih sendiri susah banget soalnya orang lain yang ngotorin, tapi pas bareng-bareng lebih gampang!”

2010

Juli, Game Based Learning Class

Kelas game design telah banyak menghasilkan board games yang edukatif, salah satu yang terbaik adalah Rantai Makanan. Sekarang saat nya kita uji, dikelas game based learning kali ini para peserta memainkan game yang sangat seru ini.

Dari proses bermain ini para orang tua dan guru-guru akan merasakan sendiri, bahwa bermain bisa menjadi proses belajar yang penuh arti. Seperti kelas game based learning yang sebelumnya, para peserta belajar memfasilitasi proses belajar menggunakan.

Setiap peserta diberikan board game Roket Raket, dimana mereka diberikan kesempatan belajar memainkannya serta membuat canvas yang berisi resep main. Seperti kelas sebelumnya, para peserta melihat bahwa sebuah game ini bisa digunakan untuk mengajarkan banyak hal, seperti matematik, dan kimia.

2019

September, Siaga Game Schooling

Setelah bencana yang menerpa Lombok, dan Palu di bulan Maret lalu, Baznas bersama Ludenara menjalankan inisiatif pembelajaran mitigasi bencana dengan menggunakan board game Siaga. Board game ini di rancang oleh Eko Nugroho setelah beliau bersama tim nya mensurvey tempat-tempat yang terkena bencana.

Untuk menguji sistem pembelajaran yang bisa dihadirkan oleh board game ini, Ludenara bersama Baznas mengadakan Game Schooling di SMA 8 Bandung. Selama memainkan game ini, para murid-murid SMA berperan sebagai petugas yang bertanggung jawab untuk meminimalisir korban bencana di area yang mereka kelola.

Setelah bermain, kita mengadakan debriefing. Dari sini kita bisa mencari tahu apakah dengan mengikuti program Game Schooling kita mereka bisa mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa membantu meminimalisir korban bencana alam. Tanpa diduga hasilnya sangat positif. Di saat presentasi murid-murid kita bisa melihat bahwa mereka menangkap pesan-pesan yang ingin kita sampaikan. Seperti pentingnya sumbangan, semangat gotong royong, pentingnya komunikasi, kerjasama antara relawan, dan lainnya.

2019

September, Siaga Game Schooling

Kesuksesan board game Siaga untuk mengajar murid-murid SMA mendatangkan pertanyaan baru, apakah game ini bisa digunakan untuk mengajar murid SMP atau SD? Dengan pertanyaan itu, bersama Baznas kita mengadakan Game Schooling di SMP Cendikia Baznas.

Seperti di SMA 8 mereka bermain dengan sangat antusias. Meskipun mereka membutuhkan lebih banyak ronde untuk lancar memainkan game ini, kekhawatiran kita akan kemampuan mereka untuk memahami game ini pudar. Khususnya di ronde-ronde akhir, mereka sanggup untuk mencegah terjadinya korban bencana.

Murid-murid SMP ini telah membuktikan daya belajar mereka yang sangat cepat. Salah satu kelompok sangat tidak siap menghadapi bencana pertama, dan korban yang mereka akumulasikan sangat lah banyak. Namun dari sini mereka langsung tahu kesalahan mereka yaitu kurang bekerja sama, mereka langsung menyusun strategi bersama dan di bencana selanjutnya mereka berhasil meminimalisir korban. Selain itu, nilai-nilai pembelajaran yang telah didapatkan oleh anak SMA mereka juga sanggup mempresentasikannya.

Translate »