Dulu Koleksi Perangko dan Kelereng, Sekarang Kartu Pokemon

Dulu Koleksi Perangko dan Kelereng, Sekarang Kartu Pokemon

  • Opini
  • August 23, 2019
  • 42
  • 6 minutes read

Permainan kartu Pokemon berbahasa Indonesia baru-baru ini memasuki pasar di wilayah Jabodetabek. Meskipun baru saja rilis, permainan yang dikenal dengan nama Game Kartu Koleksi Pokemon edisi Matahari dan Bulan sudah banyak yang mencarinya bahkan hingga ke luar pulau Jawa.

Ada beberapa alasan kenapa permainan ini langsung banyak diserbu: kompetisi, koleksi atau pasar barang bekas. Yuk, mari kita bahas satu per satu.

Baca juga: Permainan Kartu Pokemon Sedang Marak, Bahaya Nggak Ya Untuk Anak?

Kompetisi

Beberapa orang tertarik dengan yang namanya kompetisi, haus akan kemenangan. Sebuah ajang pembuktian diri bahwa dia yang terhebat jika memenangkan sebuah kompetisi. Untuk kasus game kartu Pokemon, para pemainnya ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah trainer atau pelatih pokemon yang paling hebat, seperti lirik lagu Pokemon versi bahasa inggris:

♫ ♪ I wanna be the very best, like no one ever was ♪ ♫

Image

Bahkan permainan ini sudah memiliki panggung kelas dunia dengan adanya kejuaraan dunia alias World Championships. Meski terlalu awal untuk Indonesia tapi bukan berarti tidak mungkin. Hal yang membanggakan bukan, jika suatu saat nanti ada finalis dari Indonesia dan bahkan memenangkannya?

Koleksi

Namanya saja Game Kartu Koleksi Pokemon, tentu “koleksi” adalah premis utamanya. Sebenarnya koleksi ini bersinergi dengan cerita Pokemon yang sesungguhnya. Jika kamu menonton anime atau memainkan game digitalnya, kebanyakan trainer ingin melengkapi pokedex (pokemon index)-nya. Tak jauh berbeda dengan adaptasi permainan kartunya, para pemain juga bisa berburu kartu dan melengkapi seluruh kartu yang ada. Terlebih lagi banyak kartu dipercantik dengan ilustrasi yang lucu dan imut.

Tidak ada yang salah dengan aktivitas koleksi di sini. Toh jaman dulu mungkin pembaca juga sudah pernah menjadi kolektor meski hanya sebatas koleksi kelereng, tazos, perangko atau lainnya. Sebenarnya proses “collecting” itu adalah sebuah awal, biasanya lanjut dengan “processing” lalu “presenting”.

Teman-teman yang mengoleksi kartu Pokemon pasti kemudian memproses koleksinya misal dengan mengklasifikasikannya ke dalam album atau dek. Di satu titik mereka juga akan mempresentasikannya, entah dengan berkompetisi atau yang lainnya.

“Jika anak-anak diajak melewati proses collecting-processing-presenting dengan baik semua proses tersebut akan membuahkan proses belajar yang sangat luar biasa.” Ujar Eko Nugroho, seorang pakar game-based learning.

Kutipan di atas bisa menjadi satu catatan penting untuk orang tua ataupun guru. Dampingi putra-putri dan anak-anak kalian dalam proses koleksi ini.

Koleksi

Pasar barang bekas

Tidak ada yang bisa menebak, kartu apa saja yang didapat dari sebuah starter deck berisi 60 kartu atau booster berisi 6 kartu. Bisa jadi mendapat kartu langka, bisa jadi dapat kartu pasaran. Ada dari mereka yang menyerbu kartu Pokemon untuk berburu kartu langka, dengan harapan nanti bisa dijual kembali dengan harga yang lumayan. Kalau dapat.

Nah, kamu termasuk tipe yang mana?

You may also like