Ketika Guru-Guru Belajar Membuat Board Game Untuk Mengajar

Ketika Guru-Guru Belajar Membuat Board Game Untuk Mengajar

“Aku dulu paling benci banget dengan games. Tiap hari muridku selalu mencuri waktu untuk main games saat pelajaran. Namun hari ini setelah ikut kelas boardgames dari KGB Pekalongan mindsetku berubah. Games ternyata bisa jadi sarana mendekatkan diri dengan siswa, menyampaikan pelajaran serasa bermain” ujar salah satu peserta di kelas boardgames Ramadan Street Learning (Ransel) 2 dari Komunitas Guru Belajar (KGB) Pekalongan.

Kelas boardgames merupakan salah satu kelas yang ada di kegiatan Ransel 2. Kelas tersebut diikuti oleh sekitar 36 peserta yang sebagian besar adalah guru. Jumlah ini melebihi kuota yang pada awalnya hanya terbatas untuk 20 peserta saja.

Sesi menjajal board game
Sesi menjajal board game

Pada awal pembelajaran guru-guru diajak memainkan beragam board game karya anak bangsa dari Aquatico (menjaga ekosistem air), Mashup Monsters (mengidentifikasi bentuk), Math Cat (operasi bilangan), dan bahkan ada game karya guru-guru KGB Pekalongan “Aren Petungkriyono” tentang keistimewaan pohon Aren.

Setelah bersama-sama berdiskusi, peserta mendapat tantangan untuk membuat board game lengkap dengan gameplay dan game mechanic (cara main) yang menantang dan membuat murid ketagihan belajar. Hasilnya ada 6 boardgames yang dibuat oleh guru-guru dalam kelas tersebut, ada game yang mengenalkan Rumah Adat hingga game Bilangan Biner!!!

Sesi membuat board game
Sesi membuat board game

Ransel 2 ini merupakan kegiatan rutin per tahun yang dilakukan oleh KGB Pekalongan. Dalam kegiatan ini ada dua jenis kelas yaitu kelas berbayar dan kelas berbagi. Kelas berbayar adalah kelas yang tujuan utuamanya adalah meningkatkan kompetensi tertentu para pesertanya. Selain kelas boardgames ada 4 kelas lainnya yaitu kelas belajar membuat infografis, kelas membuat video dengan powerpoint, kelas menjadi youtubers dan kelas belajar bahasa inggris dengan teknologi.

“Harapannya selain kompetensi yang ditawarkan di kelas ini, peserta juga bisa belajar tentang proses pembelajaran yang merdeka dan diterapkan di kelasnya” ujar Niamil Hida, pengisi kelas membuat video dengan powerpoint.

Kelas berbayar sendiri selesai pukul 14.30 WIB, tidak berhenti sampai di sana. Setelah kelas berbayar, ada kelas berbagi. Kelas gratis yang berisi implementasi pembelajaran di kelas. Jika kelas berbayar belajar tentang kompetensinya, kelas berbagi langsung mempraktiikan apa yang ada di kelas. Sehingga guru yang mengikuti kelas berbagi akan melihat langsung praktik merdeka belajar di kelas.

Adapun kelas yang ada di kelas berbagi adalah kelas belajar puisi lama dengan Rap, kelas Belajar dengan Board games, kelas Pekalongan main sains, kelas belajar bahasa Arab menyenangkan, kelas akting, kelas edupreneur, dan kelas belajar Matematika seru.

Kegiatan yang berlangsung Minggu, 10 Juni 2018 di SMAN 1 Kedungwuni ini bertema game based learning. Menurut Arifin selaku ketua pelaksana, alasan pemilihan tema karena zaman sudah berkembang, games berkembang pesat bahkan di dunia pendidikan. Namun banyak guru yang masih menganggap games menjadi salah satu momok yang berbahaya.

“Impiannya adalah ada guru yang belajar dari anak, menerapkan pembelajaran serasa bermain. Sehingga muncul kasmaran belajar di diri anak.” Ujar Nunuk ketua komunitas Guru Belajar Pekalongan.

Artikel ini dikirim dan ditulis oleh Muhammad Abdurrahman
diolah oleh Isa R. Akbar

You may also like