Capek Disuruh Nikah, Cewek Ini Malah Membuat Board Game Anti Perjodohan

Capek Disuruh Nikah, Cewek Ini Malah Membuat Board Game Anti Perjodohan

“Kapan Nikah?”

Adalah pertanyaan sakral yang kerap dilontarkan oleh temanmu yang sudah berkeluarga saat acara reunian atau pas lebaran bersama keluarga besar. Mungkin niatnya adalah untuk mendoakan namun kadang malah dijadikan juga sebagai bahan sindirian. Saking seringnya dihujani pertanyaan di atas justru membuatmu jengkel lantaran pihak yang bertanya tidak memberikan solusi dengan siapa ia menikah.

Sedikit berbeda dengan yang dialami oleh Nashra Balagamwala, saat usianya mencapai 18 wanita ini menjadi risih begitu orangtuanya mulai menjodohkanya. Menurutnya, perjodohan membuatnya tidak bisa bebas, tidak bisa menjadi wanita karir ataupun meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Foto: Kickstarter.com

Hal ini tidak hanya terjadi padanya. Ya! Budaya perjodohan ternyata masih kental dan sering terjadi terutama pada wanita-wanita muda di wilayah Asia Selatan. Mereka diperas secara emosional atau dipaksa untuk menikah dengan pria pilihan orang tua mereka. Biasanya pria yang dijodohkan memiliki harta ataupun status sosial yang cukup ternama, bisa juga seorang pebisnis.

Lima Tahun Kemudian

Berselang lima tahun kemudian, berbekal pengalamannya, wanita yang sebelumnya pernah bekerja di Hasbro ini mencoba membuat board game tentang penentangan perjodohan. Berjudul Arranged!, game ciptaannya menceritakan tiga orang wanita yang harus kabur dari sang mak comblang agar tidak dijodohkan dengan pria-pria yang ada dalam permainan.

Beragam kartu aksi mampu menggerakkan wanita-wanita ini menjauh dari para pria. Misalnya, dengan berkarir, kencan dengan pria di sebuah mall, memakai cicin pernikahan palsu atau menggemukkan badan. Hal-hal di atas yang normal terjadi di belahan dunia lain namun tidak di Asia Selatan. Bagi masyarakat sana, wanita yang melakukannya dianggap tercela dan memalukan.

Balagamwala juga berharap aksi dalam kartu-kartu tersebut bisa menjadi bahan diskusi. Menunjukkan bahwa mereka tidak ingin menikah, namun mengejar mimpi. “Di awal permainan, mungkin game ini akan terkesan seru. Namun, mereka akan mulai menyadari masalah utamanya, dan hal ini pantas untuk dibicarakan.” Ungkap wanita kelahiran Pakistan ini.

Selain ada tiga pion wanita, ada satu lagi ‘Aunty’ alias si mak comblang yang bertugas mempertemukan pion wanita dengan pion pria. Meskipun di awal tugas pemain adalah menjauh dari mak comblang, namun di tengah permainan mereka justru ingin bertemu dengannya.

Hal ini terjadi ketika mak comblang bertemu dengan seorang ‘Golden Boy’. Seorang CEO, berkulit terang, berparas tampan yang diibaratkan sebagai pria idaman. Saat inilah para wanita justru memamerkan bakat mereka pada si mak comblang, seperti fakta bahwa mereka selalu sholat 5 waktu, atau hanya memiliki teman wanita.

Foto: Kickstarter.com

Bersambung ke halaman berikutnya:

1 | 2

You may also like