Siti Sopiah: Murid Lebih Memahami Akuntansi Berkat Board Game [Guru Bermain]

Siti Sopiah: Murid Lebih Memahami Akuntansi Berkat Board Game [Guru Bermain]

Jika kegiatan belajar mengajar di kelas menggunakan cara yang sama setiap kali pertemuan, tentu murid bisa jadi bosan. Mereka akhirnya mengikuti pelajaran karena wajib, bukan karena mereka mau apalagi suka. Mengenalkan metode belajar baru juga tidak mudah, apalagi dengan media board game. Namun begitu sukses, suasana kelas jadi lebih hidup, murid juga jadi lebih mudah menangkap materi dan jadi semangat belajar.

Seperti yang dialami oleh ibu Siti Sopiah misalnya. Ia bergabung menjadi guru SMA di Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri setelah empat tahun menjadi guru bimbel. Saat menjadi pengajar bimbel dari tahun 2006, fokus di kelasnya lebih berat pada isi materi, penyampaian dan cara mudah dalam menguasai materi tersebut. Cara pandangnya sebagai pengajar ternyata berubah cukup drastis setelah merasakan mengajar di sekolah.

“Saya tidak lagi berfokus pada 3 hal tadi. Saya mulai berfokus pada banyak hal. Pengelolaan kelas, model pembelajaran, metode, media pembelajaran, penelitian tindakan kelas, dan lainnya,” jelas ibu guru yang akrab disapa bu Sopi.

Kesempatan untuk mengembangkan metode dan media pembelajaran yang lebih variatif tidak disia-siakan. Alhasil di tahun kedua bu Sopi mencoba menerapkan pembelajaran menggunakan game di kelas. Kala itu Ia mencoba game yang sederhana seperti TTS, tebak gambar dan sambung tulisan. Ia mengaku baru mengulik board game setelah sekolahnya mengadakan lomba board game pada tahun 2018.

“Saya melihat bahwa siswa sangat senang belajar dengan model, metode dan media yang variatif. Salah satu variasinya ya game,” ujar bu Sopiah.

Suasana saat memperkenalkan game di kelas

Belajar akuntansi lewat board game

Board game pertama yang dibuat bu Sopi adalah board game tentang mata pelajaran akuntansi, lebih tepatnya untuk mengajarkan materi jurnal penyesuaian. Berjudul Accounting Fun Learning, Ia mengaku terinspirasi dari permainan milik anaknya.

Awal memulainya murid-murid dibagi menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 1 juri yang akan bertindak sebagai tutor dan penilai permainan bersama yang beranggotakan 4-6 siswa lainnya. Juri membacakan aturan permainan dan menentukan giliran bermain. Setiap siswa bergilir menjawab soal pada board game dengan mencocokkan akun yang muncul dan bentuk jurnal penyesuaian yang tepat sesuai dengan transaksi pada soal board game.

Semenjak memanfaatkan board game di kelas untuk pembelajaran, suasana kelas menjadi makin ceria. Ketika bermain Accounting Fun Learning, ada siswa yang berteriak kegirangan saat juri membalik kartu dan melihat jawaban yang mereka tentukan sudah benar.

Rupanya bermain board game di kelas juga berhasil meningkatkan nilai akuntansi terutama murid laki-laki yang bisa dikatakan lebih semangat begitu mendapat waktu bermain di jam akuntansi. Secara keseluruhan, siswa merasa senang, belajarnya lebih jadi menantang, mereka merasa lebih mudah memahami materi dan lebih antusias “belajar” bermain karena ingin menjadi pemenang.

Bu Sopiah saat mengajar materi jurnal penyesuaian dengan board game.

“Target saya pun memang di kelas putra karena secara hasil evaluasi pembelajaran nilainya lebih rendah dari kelas putri. Mereka merasa lebih seru belajar dengan media board game.” tutur bu Sopiah.

Jadi lebih mudah memahami materi

Board game benar-benar bisa membantu siswa lebih paham terkait materi yang ingin disampaikan. Bukti lain yang ibu Sopi rasakan dari manfaat board game adalah saat ada siswa pindahan baru. Rupanya saat itu kurikulum sekolahnya berbeda dengan Nurul Fikri sehingga siswa tersebut belum belajar sama sekali tentang akuntansi.

Padahal akuntansi memiliki materi yang bersifat prerequisite dimana siswa harus menguasai materi sebelumnya, sebelum lanjut menguasai materi berikutnya. Bu Sopi sempat menganjurkan untuk privat agar mengejar ketertinggalannya di materi akuntansi. Namun begitu dijelaskan pun, siswa tersebut masih belum memahami sepenuhnya. Ia membutuhkan ekstra energi untuk itu. Ternyata lewat board game, siswa jadi lebih paham.

“Saat saya ajak belajar menggunakan board game, dengan cepat justru Ia menguasai materi dan malah berhasil menjadi pemenang board game di kelompoknya. Ia begitu senang dan antusias. Akhirnya Ia bisa belajar lebih baik.”

Tidak berhenti di Accounting Fun Learning. Ibu guru yang juga gemar belajar bahasa Inggris ini juga menciptakan board game lainnya yang masih berhubungan dengan akuntansi yaitu “Choose and Play” tentang jurnal umum dan board game “Invest” yang mengajarkan murid materi pasar modal.

Simak cerita seru dari pengalaman para guru lainnya yang memanfaatkan board game untuk pembelajaran di segmen [Guru Belajar].

Kamu juga memiliki cerita atau pengalaman seru seputar pemanfaatan board game sebagai media pembelajaran untuk dimuat di Boardgame.id? Kirimkan saja draft tulisanmu ke email kami di [email protected], atau cukup isi formulir berikut untuk memudahkanmu berbagi cerita:

You may also like